Sabtu, 09 November 2013

Mensyukuri apa yang kita dapati sekarang


Mensyukuri apa yang kita dapati sekarang

OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.

Kadang-kadang masih ada yang merasa bingung terhadap apa yang mereka dapati atau nikmati dimasa hidup sekarang ini. Mungkin mereka berpikir, kenapa saya sudah begini kok dapat begitu? Atau, kenapa mereka begitu kok dapat begini? Akhirnya penyesalan demi penyesalan akan muncul, untuk melemahkan semangat hidup, dan mengurangi keyakinan terhadap ajaran agama dan terhadap kebesaran Ida Hyang Widhi. Karena penyesalan itu sebenarnya tidak ada gunanya sama sekali. Lebih baik waspada sebelum dan diwaktu beraktivitas, dibandingkan dengan menyesal setelah mendapat hasil dari aktivitas itu. Karena apa yang kita perbuat itu sekaligus merupakan kehendak kita dan juga merupakan pernyataan kita atau permohonan kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Oleh karena Beliau sangat adil dan bijaksana, apapun yang menjadi keinginan manusia pasti akan dipenuhi. Kalau mereka menginginkan hidup tenang dan bahagia, mereka harus menyampaikan keinginan melalui perbuatan kepada Beliau. Jadi Beliau akan menilai, jenis kebahagiaan yang bagaimana diinginkan, apakah kebahagiaan di atas penderitaan orang lain atau kebahagiaan bersama, setelah itu pasti kita terima hasil dari permohonan tersebut. Pokoknya apa yang kita mohon kepada Beliau pasti dipenuhi, lalu mengapa kita harus menyesali pemberian atau anugrah Beliau. Apakah penyesalan itu tidak boleh disebut salah satu bentuk sifat durhaka?


Ambil saja satu contoh, seorang anak meminta uang jajan 10 rupiah kepada orang tuanya, mereka berbicara dan bergerak untuk menyatakan permintaanya itu agar orang tuanya mengerti. Lalu orang tuanya memenuhi permintaan anaknya, dengan memberikan uang sesuai dengan permintaan. Mengapa si anak menyesal atas pemberian orang tuanya? Dengan mangatakan bahwa uang 10 rupiah mana cukup untuk membeli jajan? Percuma saya minta uang. Jajan saja harganya 100 rupiah, kok sampai hati orang tua saya memberi uang segini? Bentuk prilaku seperti inilah sebenarnya sangat tidak berguna. Apa bila mereka menyadari, semestinya sebelum meminta harus waspada dahulu, baik tentang harga maupun yang lainnya. Setelah itu baru meminta, pasti tidak akan terjadi penyesalan.

Demikian gambaran sebagai contoh untuk dapat menghayati tentang apa yang kita nikmati sekarang adalah merupakan hasil dari karma kita sendiri, sehingga setiap mau berbuat (berkarma), harus dilandasi oleh pikiran yang sejati, perkataan yang sejati dan pelaksanaan yang sejati. Untuk mendapatkan semua kesejatian tersebut, tiada jalan lain selain mengikuti petunjuk-petunjuk sastra Agama. Di dalam kitab Agastya Purana ada dimuat tentang penjelmaan kembali, apabila kita tersebut dibaca secara teliti, ada penjelasan tentang penjelmaan yang erat kaitannya dengan karma wasana.

Misalnya seseorang yang lahir menjadi manusia cacat (cacat fisik), itu diakibatkan oleh sewaktu mereka hidup sebelum kelahiran sekarang, sangat senang berbicara yang kurang sedap didengar, sehingga sering menimbulkan perasaan yang kurang enak bagi yang mendengarkannya, bahkan tidak jarang menyebabkan sakit hati. Prilaku mereka yang demikian itu, merupakan kesenangan sekaligus merupakan permohonan kehadapan Beliau agar dikemudian hari dapat pahala sesuai dengan kesenangannya. Makanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan sangat adil menganugrahi mereka untuk menjelma menjadi orang sumbing. Nah kenapa setelah diberikan anugrah sesuai dengan permohonan, kita jadi menyesal? Jika tidak senang menjadi manusia sumbing atau cacat fisik janganlah berbuat yang bertentangan dengan ajaran agama. Kalau ingin menjadi orang kaya material dikemudian hari, mulai sekarang harus senang membantu (berderma) secara tulus dan ikhlas, pasti penjelmaan dikemudian hari menjadi orang kaya.

Pada dasarnya segala yang kita dapati dalam hidup sekarang, itu berdasarkan perbuatan kita terdahulu. Penyesalan demi penyesalan sebenarnya tidak bermanfaat. Untuk itu syukurilah apa yang kita dapati, dan selalu mengadakan evaluasi guna dapat meningkatkan atau menyempurnakan kehidupan dimasa datang. Masihkah saudara meyakini ajaran punarbawa? Atau, masihkah ada sisa-sisa keyakinan saudara tentang ajaran punarbawa, yang merupakan salah satu bagian dalam ajaran Panca Sraha? Yakin tidak yakin ajaran punarbawa akan terjadi di setiap manusia.

Maka dari itu, syukurilah apa yang kita terima sekarang merupakan hasil dari perbuatan kita. Tiada penyesalan yang mampu memberikan jawaban dan mengubahnya. Mengapa harus melakukan sesuatu yang tidak memberikan dampak positif terhadap diri kita?

OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar