Senin, 11 November 2013

sanggah kemulan / rong tiga


BAB I  PENDAHULUAN

           Pada dasarnya masyarakat Bali yang terdiri dari kumpulan individu-individu. Memiliki bentuk-bentuk kebudayaan yang sangat menarik untuk digali dan dikaji, salah satunya adalah adanya bentuk bangunan-bangunan tradisional Bali yang dari dulu sampai sekarang masih di pakai dan dilestarikan oleh masyarakat Bali. Masyarakat Bali yang dijadikan objek penelitian dalam kesempatan ini adalah orang-orang Bali yang tinggal di Bali yang beragama Hindu. Kehidupan masyarakat tersebut masih dipengaruhi oleh suatu kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari folklore; apakah itu mite, dongeng, legenda atau ekspresi budaya (kebiasaan dari turun temurun).
            Salah satu yang menarik adalah ekspresi budaya. Pengaruh kebudayaan Hindu yang tidak dapat lepas dari masyarakat Hindu Bali yakni adanya bangunan-bangunan tradisional suci umat Hindu seperti kepercayaan masyarakat tentang Sanggah Kamulan. Kepercayaan rakyat, atau yang sering disebut dengan “takhyul”, adalah kepercayaan yang oleh orang berpendidikan Barat dianggap sederhana bahkan pander, tidak berdasarkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggung jawabkan (Dananjaya, 1984: 153).

Minggu, 10 November 2013

yadnya sesa


YADNYA SESA
Yadnya sesa/banten saiban merupakan salah satu yadnya atau persembahan yang dilakukan setiap hari yang sering di sebut dengan Nitya Karma. Yadnya sesa ini dilakukan setelah selesai memasak dan sebelum menikmati makanan yang telah dimasak.
Melaksanakan persembahan atau yadnya merupakan kewajiban serta tugas bagi umat Hindu untuk menunaikannya. Dalam menunaikan tugas dan kewajiban tersebut hendaknya dilandasi dengan dharma dan etika yang baik serta ketulusan hati. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya. Dengan demikian yadnya merupakan persembahan dan pengabdian yang tulus iklas tanpa adanya harapan untuk medapatkan imbalan-imbalan.

fungsi-fungsi manajemen pendidikan

Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan

Manajemen pendidikan dalam prakteknya membutuhkan berbagai fungsi manajemen. Fungsi manajemen yang terdapat dalam pendidikan meliputi fungsi perencanaan atau planning, fungsi pengorganisasian atau organizing, fungsi pengarahan atau directing, dan fungsi pengendalian atau controlling. Berikut penjelasan dari fungsi-fungsi tersebut:
1.  Perencanaan (Planning)
Ini adalah fungsi paling awal dari semua fungsi manajemen, para ahli juga menyutujui hal tersebut. Perencanaan adalah proses kegiatan untuk menyajikan secara sistematis segala kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu.
Perencanaan dapat diartikan sebagai penetapan tujuan, budget, policy prosedur, dan program suatu organisasi. Dengan adanya perencanaan, fungsi manajamen berguna untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai, menetapkan biaya, menetapkan segala peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman yang harus dilaksanakan.

makna penjor galungan


MAKNA PENJOR GALUNGAN
Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.
Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.

Sabtu, 09 November 2013

Mendidik Anak Dalam Konsep Hindu


Mendidik Anak Dalam Konsep Hindu

Om Swastiastu,
Anak merupakan anugerah. Dalam pandangan Agama Hindu, seorang anak merupakan pewaris sekaligus penyelamat bagi orang tua dan para leluhur. Begitu pentingnya peran dan kedudukan seorang anak, maka setiap keluarga tentu mengharapkan lahirnyaseorang anak yang suputra, seorang anak yang berwatak dan berkarakter baik, berbakti kepada orang tua dan leluhur serta taat kepada ajaran agama. Watak dan karakter seorang anak sesungguhnya dapat dibentuk melalui pendidikan. Ibarat kertas putih bersih, maka seperti itulah perumpamaan bagi seorang anak yang baru lahir. warna, corak dan karakternya tergantung dari goresan pendidikan yang diberikan dalam hal ini pendidikan oleh orang tua dan lingkungan.

Dalam konsep Hindu, mendidik seorang anak dimulai semenjak dalam kandungan. Hal ini termuat dalam lontar Semara Reka dan Angastya Prana. Untuk dapat mendidik anak agar menjadi seorang yang suputra, maka terlebih dahulu orang tualah yang harus merubah dirinya menjadi orang tua yang baik. Karena itu dianjurkan dalam satra agar seorang ibu mengandung setelah melalui proses upacara perkawinan. Disamping menghindari pengaruh beban psikis jika hamil sebelum melangsungkan upacara perkawinan, setelah melalui upacara perkawinan maka sanghyang kama ratih dalam diri orang tua telah disucikan sebelum bertemu dan menjadi benih. Hal ini sangatlah penting karena ibarat menanam benih maka benih dan ladang harus dibersihkan dan disucikan terlebih dahulu untuk mendapat hasil yang baik.

Memahami Kewajiban Sebagai Pewaris


Memahami Kewajiban Sebagai Pewaris

OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.

Debu-debu materi dan debu-debu kama beterbangan di mana-mana, seperti telah menutupi cerahnya angkasa, membendung sinar matahari menembus bumi. Keadaan semakin gelap, kesalahan, dan ketersinggungan semakin bermunculan tak ubahnya seperti tumbuhnya jamur dimusim hujan. Pertengkaran, perkelahian, dan konplik semakin subur bahkan sepertinya sudah menjadi budaya hidup. Hampir semua orang merasa benar, merasa paling kuat, paling berjasa, dan paling semuanya. Perselisihan secara pelan-pelan merambat dengan mantap kian mendekati hati. Seolah-olah tidak memberi peluang kepada Dharma untuk mengembangkan sayapnya di hati manusia. Terjadinya pelecehan-pelecehan pun semakin tak terbendung. Sangat sulit untuk menentukan yang mana benar dan yang mana salah, demikian gelapnya hati manusia yang ditutupi oleh debu-debu tadi.

Sadar atau tidak sadar masih sangat sedikit yang berkeinginan untuk mengusap debu yang menutupi hati nurani, untuk dapat memberikan kesempatan Dharma bisa bernafas dan bersinar, dapat memenuhi kewajibannya memberikan penerangan. Serentetan kalimat di atas ditulis hanya sedikit usaha untuk menguwak kegelapan sehingga bisa mendapatkan bayang-bayang, guna dapat meraba melalui rasa kewajiban sebagai pewaris yang dituntut bertanggungjawab terhadap leluhur dan generasi mendatang. Bila usaha ini tidak berhasil, berarti satu poin kita sudah melanggar amanat Veda. Sebab Veda mengamanatkan kepada kita: ”Keturunan adalah pewaris leluhur...”. Dalam kalimat tersebut terkandung makna si pewaris harus bertanggung jawab penuh atas apa yang diwarisinya. Namun dalam kenyataan sekarang kata waris, diterjemahkan sangat sempit sekali. Yaitu waris diartikan hanya berupa artha benda (kekayaan material) saja.

Mensyukuri apa yang kita dapati sekarang


Mensyukuri apa yang kita dapati sekarang

OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.

Kadang-kadang masih ada yang merasa bingung terhadap apa yang mereka dapati atau nikmati dimasa hidup sekarang ini. Mungkin mereka berpikir, kenapa saya sudah begini kok dapat begitu? Atau, kenapa mereka begitu kok dapat begini? Akhirnya penyesalan demi penyesalan akan muncul, untuk melemahkan semangat hidup, dan mengurangi keyakinan terhadap ajaran agama dan terhadap kebesaran Ida Hyang Widhi. Karena penyesalan itu sebenarnya tidak ada gunanya sama sekali. Lebih baik waspada sebelum dan diwaktu beraktivitas, dibandingkan dengan menyesal setelah mendapat hasil dari aktivitas itu. Karena apa yang kita perbuat itu sekaligus merupakan kehendak kita dan juga merupakan pernyataan kita atau permohonan kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Oleh karena Beliau sangat adil dan bijaksana, apapun yang menjadi keinginan manusia pasti akan dipenuhi. Kalau mereka menginginkan hidup tenang dan bahagia, mereka harus menyampaikan keinginan melalui perbuatan kepada Beliau. Jadi Beliau akan menilai, jenis kebahagiaan yang bagaimana diinginkan, apakah kebahagiaan di atas penderitaan orang lain atau kebahagiaan bersama, setelah itu pasti kita terima hasil dari permohonan tersebut. Pokoknya apa yang kita mohon kepada Beliau pasti dipenuhi, lalu mengapa kita harus menyesali pemberian atau anugrah Beliau. Apakah penyesalan itu tidak boleh disebut salah satu bentuk sifat durhaka?